Pengendalian Internal
PENGENDALIAN INTERNAL
TATA KELOLA
Pengendalian internal merupakan bagian penting dalam pelaksanaan tata
kelola perusahaan. Di Amerika Serikat, Sarbanes and OxleyAct (SOA)
mengharuskan manajemen perusahaan publik untuk merancang dan mempertahankan
efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan. Termasuk di
dalamnya adalah pengendalian dan prosedur pengungkapan.
Dalam melakukan penilaian, perusahaan publik harus menggunakan kerangka
penilaian yang diakui oleh Securities and Exchange Commision (SEC),
Otoritas Jasa Keuangannya Amerika Serikat. Kerangka pengendalian internal
terintegrasi yang dikembangkan oleh Committe of Sponsoring Organization of
the Treadway Commision (COSO) oleh SEC dianggap memenuhi kriteria untuk
penilaian.
DEFINISI
COSO (2013: 3) mendefinisikan pengendalian internal sebagai:
“A process, effected by an entity’s board of directors, management and
other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the
achievement of objective in the following categories (1) effectiveness dan
efficiency of operation; (2) reliability of financial reporting; (3)
compliance with applicable laws and regulation.”
KOMPONEN DAN PRINSIP
Coso menyebutkan adanya lima komponen pengendalian internal.
1. Lingkungan pengendalian (control environment)
2. Penilaian resiko (risk assessment)
3. Kegiatan pengendalian (control activities)
4. Informasi dan komunikasi (information and communication)
5. Kegiatan monitoring (monitoring activities)
Tiap-tiap komponen mempunyai prinsip-prinsip yang harus dianut dalam
penerapan pengendalian internal.
1. Komitmen terhadap integritas dan nilai-nilai etika
2. Komitmen terhadap kompetensi
3. Independensi dewan komisaris terhadap direksi dalam melaksanakan fungsi
pengawasan
4. Struktur, jalur pelaporan, dan penetapan tugas dan tanggung jawab yang
tepat.
5. Penetapan akuntabilitas yang jelas bagi setiap individu
Prinsip-prinsip yang dianut dalam penilaian risiko.
1. Penjabaran tujuan organisasi secara spesifik
2. Pengidentifikasian risiko dikaitkan dengan tujuan organisasi
3. Penilaian terhadap risiko dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya
kecurangan
4. Pengidentifikasian dan penilaian terhadap perubahan risiko yang
berpengaruh terhadap pengendalian internal
Kegiatan pengendalian mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Pengendalian harus dapat memitigasi risiko perusahaan ke tingkat yang
dapat diterima
2. Pengendalian umum terhadap teknologi perlu dikembangkan
3. Pengendalian mencakup kebijakan dan prosedur
Prinsip-prinsip untuk informasi dan komunikasi mencakup tiga hal berikut.
1. Penggunaan informasi yang relevan dan berkualitas.
2. Mengomunikasikan informasi kepada pihak internal.
3. Mengomunikasikan kepada pihak eksternal.
Prinsip-prinsip untuk kegiatan monitoring mencakup.
1. Penilaian terhadap berfungsinya pengendalian internal yang dilakukan
secara terus menerus atau secara terpisah
2. Mengomunikasikan kelemahan pengendalian internal yang dilakukan pada
waktu yang tepat kepada pihak yang bertanggung jawab terhadap tindakan
koreksi termasuk direksi, manajemen, senior, dan dewan komisaris. Jika hal
tersebut diperlukan.
EFEKTIVITAS
Syarat agar suatu pengendalian internal dikatakan efektif adalah
keberadaan, berfungsi, dan terintegrasi. Kelima komponen beserta
prinsip-prinsipnya harus telah ada dalam rancangan dan implementasi. Syarat
berfungsi berarti bahwa komponen dan prinsip-prinsip tersebut tetap
berjalan dan digunakan sebagai pedoman dalam kegiatan perusahaan.
Terintegrasi merujuk pada pengertian bahwa kelima komponen dan
prinsip-prinsip yang dianut berjalan secara bersama-sama.
LIMITASI
Definisi pengendalian internal yang dikembangkan oleh COSO (2013: 3)
menyebutkan bahwa tujuan pengendalian internal adalah untuk memberikan
kepastian yang wajar (reasonable assurance) tentang pencapaian tujuan
perusahaan. COSO menyebutkan bahwa penyebab adanya keterbatasan dalam
pengendalian internal adalah : Suitability, Bias, dan Break-down.
PELAPORAN KEUANGAN
Dalam sistem pelaporan keuangan, tujuan menghasilkan pelaporan keuangan
yang dapat dipercaya diwujudkan dalam bentuk asersi manajemen. Asersi ini
mencakup asersi terhadap kelompok transaksi, asersi terhadap saldo akun dan
asersi terhadap penyajian dan pengungkapan.
Transaksi atau kejadian merupakan dasar pencatatan dalam sistem informasi
akuntansi. Transaksi atau kejadian itu merupakan cerminan, pada level
tindakan/perbuatan, aktivitas-aktivitas bisnis yang dilakukan perusahaan,
yang terjadi secara berulang sehingga merupakan suatu siklus yang disebut
dengan siklus transaksi. Transaksi- transaksi dalam perusahaan dapat
dikelompokkan menjadi lima.
1. Siklus penjualan dan penagihan
2. Siklus pengadaan dan pembayaran
3. Siklus persediaan dan pergudangan
4. Siklus penggajian dan personalia
5. Siklus pengadaan modal dan pembayaran kembali.
Tidak ada komentar:
Terima kasih karena telah mengunjungi Blog ini. Usahakan komen karena komen anda turut membangun blog ini. Tolong berikan komentar yang layak, No SARA, No Spam, dan No Live-Link.
© 2013 CAROLUSIANO.BLOGSPOT.CO.ID ALL RIGHTS RESERVED